- Halaman Utama
- Seri Pelajaran "ALKITAB BERKATA"
- Kepastian Kedatangan Yesus
- Keselamatan
- Kejatuhan dan Pemulihan Manusia
- Orang Mati Telah Berada di Rumah Bapa di Surga ?
- Hukum Sabat Hari Ketujuh Telah Dipakukan di Salib ?
- Hari Apakah Hari Sabat Itu ?
- Bagaimana Memelihara Sabat
- Baptisan Yang Sesuai Dengan Alkitab
- Keajaiban Yesus
- Hukum Allah
- Buah Roh
- Apakah Pencobaan Datang Dari Tuhan ?
- Apakah Perjanjian Baru Telah Menghalalkan Semua Yang Haram Dalam Perjanjian Lama ?
----------------------------------
BERSYUKUR DALAM SEGALA HALMengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. --(I Tesalonika 5:18)-- Ada seorang pemuda yang bercita-cita hendak menjadi Jenderal. Pemuda ini selalu bersyukur kepada Allah oleh karena dia dikaruniakan otak yang cemerlang serta postur tubuh yang sangat mendukung untuk menjadi seorang prajurit. Ia selalu berdoa kepada Allah agar suatu hari nanti impiannya bisa menjadi kenyataan. Tibalah saatnya bagi pemuda tersebut untuk mendaftarkan diri di akademi militer. Setelah melalui proses seleksi ternyata ia dinyatakan tidak lulus. Setelah mencoba beberapa kali lagi dan juga tidak berhasil, si pemuda itu akhirnya putus asa, ia mulai mempersalahkan Allah karena tidak menjawab doanya. Ia marah kepada Allah, ia tidak lagi mempercayai Allah sebagai seorang sahabat. Ia mulai berhenti berdoa dan tidak pernah lagi melangkahkan kakinya ke gereja. BAGAIMANA MEMELIHARA HARI SABATYesaya 58:13,14 "Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya" |
HAKEKAT KEHIDUPAN”Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya." Pengkhotbah 7:2 Rabu malam yang lalu (23/6/10) kami mengadakan pelayanan upacara peminyakan untuk seorang anggota jemaat yang sakit parah dan telah sekitar 2 bulan dirawat di rumah sakit. Maksud dan tujuan upacara peminyakan ini adalah untuk menyatakan penyerahan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan oleh seluruh anggota keluarga teristimewa oleh orang yang sakit tersebut. Dalam upacara ini kita berdoa untuk kesembuhan bagi yang sakit, jika Tuhan berkehendak memberikan kesembuhan, biarlah dia sembuh, dan kalaupun Tuhan mengizinkan si sakit untuk beristirahat dari seluruh jerih payah dunia ini, biarlah dia beristirahat dengan tenang dengan satu pengharapan untuk kebangkitan pada saat kedatangan Tuhan, dan seluruh keluarga telah ikhlas untuk menerima kenyataan itu. Inilah esensi dari upacara peminyakan tersebut. MEMBANGUN IMAN YANG TEGUH“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” Lukas 6 : 46-49 Ayat yang sejajar dengan ayat tersebut di atas dapat juga kita temukan dalam kitab Matius 7:21-27. Dalam ayat tersebut Yesus mengumpamakan kualitas iman manusia dengan dua jenis pondasi, yaitu pondasi yang kokoh dan pondasi yang rapuh. Ini adalah perumpamaan yang sangat sederhana dan mudah dipahami oleh semua orang, sama seperti perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya. Seseorang tidak perlu harus menjadi seorang ahli bangunan untuk dapat memahami pentingnya arti sebuah pondasi agar suatu bangunan dapat berdiri kokoh. |


