- Halaman Utama
- Seri Pelajaran "ALKITAB BERKATA"
- Kepastian Kedatangan Yesus
- Keselamatan
- Kejatuhan dan Pemulihan Manusia
- Orang Mati Telah Berada di Rumah Bapa di Surga ?
- Hukum Sabat Hari Ketujuh Telah Dipakukan di Salib ?
- Hari Apakah Hari Sabat Itu ?
- Bagaimana Memelihara Sabat
- Baptisan Yang Sesuai Dengan Alkitab
- Keajaiban Yesus
- Hukum Allah
- Buah Roh
- Apakah Pencobaan Datang Dari Tuhan ?
- Apakah Perjanjian Baru Telah Menghalalkan Semua Yang Haram Dalam Perjanjian Lama ?
----------------------------------
Pandanglah Pada Yesus (2)
PANDANGLAH PADA YESUS (2)
(Renungan ini didasarkan dari buku Matius 14:22-33 , Markus 6:45-52, Yoh 6:14-21)
Hari sudah menjelang malam ketika Yesus mengajar orang banyak serta melakukan suatu muzizat memberi makan lima ribu orang. Walaupun hari sudah mulai gelap namun orang banyak masih juga belum mau pulang. Sebagian dari mereka masih tetap tinggal oleh karena haus akan pengajaran yang lemah lembut dan penuh kuasa dari sang Guru Besar tersebut dan sebagian lagi tetap berkumpul dengan maksud hendak memahkotai Dia menjadi raja atas Israel mewarisi tahta Daud. Mereka berpikir Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan itu dapat digunakan untuk menyembuhkan balatentara yang terluka di medan perang, Yesus bisa menyediakan makanan untuk lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, maka Ia juga pasti bisa menyediakan perbekalan bagi balatentara yang hendak berperang, disamping itu Yesus juga disegani oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi serta dihormati oleh banyak kalangan lapisan masyarakat. Bukan hanya orang banyak itu saja yang berharap agar Yesus mau menjadi Raja, tetapi para muridNya juga berharap demikian
Tetapi harapan para murid serta orang banyak itu dibuyarkan oleh perkataan Yesus yang lemah lembut yang memerintahkan murid-muridNya agar segera mengambil perahu dan berlayar menyeberang ke Kapernaum dan kemudian dengan suara yang penuh kuasa Ia menyuruh orang banyak itu segera pulang. Para murid itu merasa kecewa sekali oleh karena kehilangan kesempatan besar untuk menobatkan Yesus menjadi raja dihadapan banyak orang, tapi mereka tidak kuasa untuk menolak perintah sang Guru. Dengan bersungut-sungut oleh karena harapan mereka tidak terlaksana, mereka pergi mengambil perahu dan berlayar ke seberang menuju Kapernaum. Sementara para murid itu berlayar, Yesus masih berada di darat dan pergi ke suatu bukit untuk berdoa. Yesus menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk berdoa.
Para murid itu berlayar ditengah-tengah danau pada malam itu dengan perasaan tidak puas kepada Yesus. Hati mereka dibutakan oleh cinta akan kehormatan. Keragua-raguan terhadap Yesus mulai menjalar dalam hati mereka masing-masing. Perlahan-lahan Setan mulai mengalihkan pandangan mereka dari Yesus kepada kepentingan mereka sendiri.
Ditengah-tengah persungutan dan kekecewaan,tiba tiba topan yang dasyat bertiup seiring dengan gelora gelombang yang bergemuruh. Cuaca yang tadinya bersahabat kini seakan membuka mulutnya siap untuk membinasakan. Para murid itu menjadi ketakutan, mereka tidak siap untuk menghadapi terjangan angin dan ombak yang dasyat itu. Masing-masing mereka berjuang sekuat tenaga agar perahu mereka tidak tenggelam, tapi segala upaya sepertinya sia-sia. Topan dan gelombang itu terlalu kuat untuk mereka hadapi. Perahu mereka terombang-ambing dan semakin jauh dari arah tujuan semula. Gantinya memandang kepada sang Guru dengan segala perkara ajaib yang telah mereka saksikan, para murid itu memandang hanya kepada dasyatnya topan dan ganasnya gelombang. Sebagai hasilnya mereka diliputi keputusasaan dan merasa akan segera binasa.
Pada waktu para murid itu diliputi ketakutan yang amat sangat, dari kejauhan Yesus memperhatikan mereka bagaikan seorang ibu yang dengan penuh kasih sayang memperhatikan anaknya tanpa berpaling walau sekejap matapun. Pandangan Yesus terus mengikuti arah perahu yang diombang-ambingkan oleh gelora danau yang hebat dimana para murid yang dikasihiNya itu berada.
Menjelang pagi kira-kira pukul tiga, disaat-saat keputusasaan dan merasa akan segera binasa, tiba-tiba para murid itu melihat satu sosok tubuh yang memancarkan cahaya berjalan dengan tenangnya di atas permukaan danau yang sedang bergelora. Ketakutan yang amat sangat telah menjadi selaput yang menghalangi pandangan mereka sehingga mereka tidak mengenali sang Guru yang sedang berjalan. Mereka berteriak ketakutan karena mengira itu adalah musuh yang hendak membinasakan. Kengerian telah menguasai mereka. Namun walaupun dalam ketakutan, para murid itu masih tetap mengarahkan pandangannya kesosok tubuh yang dengan berjalan di atas air tersebut. Semakin mereka mengarahkan pandangannya perlahan-lahan mereka mulai mengenali Siapa yang sedang berjalan itu, begitu mereka yakin bahwa sosok tersebut adalah sang Guru, dengan suara nyaring mereka berseru ‘Guru, tolonglah kami !’. Sang Guru menoleh dan dengan lemah lembut Ia berkata “Tenanglah ! ini Aku,jangan takut” (Matius 14:27).
Perkataan Yesus sangat menyukakan hati para murid itu, pengharapan mereka kembali ditumbuhkan dan segala ketakutan di lenyapkan oleh karena sang Guru ada bersama mereka. Ditengah kesukaan itu tiba-tiba Petrus berseru “Tuhan, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan diatas air!” ,dan Yesus menjawab “Mari,datanglah” (Mat 14:28,29).
Dengan penuh keyakinan dan mata yang tertuju kepada Yesus,Petrus turun dari perahu dan mulai berjalan diatas permukaan danau yang masih bergelora dengan tenang. Namun saying,pada saat Petrus berjalan diatas air,kesombongan meliputi dirinya sehingga ia mengalihkan pandangannya dari Yesus dan disaat itu imannyapun runtuh. Pada waktu pandangan Petrus diarahkan sepenuhnya kepada Yesus,ia tidak takut kepada gelombang besar sehingga ia berani turun dari perahu mendapatkan Yesus, tetapi begitu pandangannya terlepas dari Yesus, angin dan gelombang itu menjadi menakutkan baginya dan siap untuk membinasakannya. Disaat kritis itu, disaat ia hampir diseret oleh arus gelombang,Petrus mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya kepada Yesus sambil berteriak “Tuhan,tolonglah aku”. Dengan segera Yesus mengulurkan tanganNya dan menuntun Petrus berjalan naik kedalam perahu.
Tidak lama setelah Yesus masuk kedalam perahu, angin topanpun berhenti dan air danau pun menjadi teduh, dengan penuh sukacita mereka menyambut pagi dengan cahaya fajar tiba diseberang pantai indah kota Kapernaum.
Pandanglah pada Yesus, karena Ia tak pernah gagal menyelamatkan setiap orang yang berseru kepadaNya. Yesus adalah sumber kehidupan dan kekuatan, oleh sebab itu barang siapa yang mengarahkan pandangannya kepada Kristus akan beroleh kekuatan sekalipun berada ditengah-tengah badai yang dasyat.
Sebagaimana halnya para murid itu mengalihkan pandangannya dari Kristus, kita juga seringkali melakukan hal yang sama sehingga perahu kerohanian kita terombang-ambing dan semakin jauh dari tujuan pengharapan kita yang semula.
APA ARTINYA MEMANDANG KEPADA KRISTUS ?
Pada saat Yesus mengundang Petrus turun dari perahu dan berjalan diatas permukaan danau yang sedang bergelora, ia dengan penuh keyakinan keluar dari dalam perahu. Petrus yang tadinya berteriak ketakutan dan nyaris putus asa di dalam perahu yang diombang-ambingkan gelombang, kini malah dengan tenang keluar dari perahu itu dan berjalan diatas permukaan danau yang dingin. Kehadiran Yesus dihadapan mereka membuat Petrus menjadi kuat. Ia menaruh pengharapan yang sepenuhnya pada Sang Guru serta yakin bahwa Ia tidak akan pernah membiarkan mereka binasa.
Mazmur 37:5 : ”Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak.“
Bersama Yesus, topan dan gelombang tidak akan mampu membinasakan kita, bersama Yesus, kita akan dapat berdiri teguh ditengah-tengah problema dan kesusahan. Mari kita arahkan pandangan kita teguh kepada Yesus dalam mengarungi samudra kehidupan hingga tiba di pelabuhan yang Tuhan sudah siapkan bagi kita, dimana tak ada lagi topan dan gelombang yang akan menerpa.



